Minggu, 19 Oktober 2014

TIPS DITILANG POLISI LALU LINTAS!

ini adalah salah satu pengalaman temen2, di baca baik2.

Beberapa waktu yang lalu sekembalinya berbelanja saya sekeluarga pulang dengan menggunakan taksi. Ada adegan menarik ketika sopir taksi hendak ditilang oleh polisi. Dialog antara polisi dan sopir taksi seperti ini.
Polisi (P) : Selamat siang mas, bisa lihat Sim dan STNK?
Sopir (Sop) : Baik Pak…

P : Mas tau..kesalahannya apa?
Sop : Gak pak

P : Ini nomor polisinya gak seperti seharusnya (sambil nunjuk ke plat nomor taksi yg memang gak standar sambil lalu menulis dengan sigap di buku tilang)
Sop : Pak jangan ditilang deh…plat aslinya udah gak tau kemana… kalo ada pasti saya pasang

P : Sudah…saya tilang saja…banyak mobil curian sekarang (dengan nada keras!!)
Sop : (Dengan nada keras juga ) Kok gitu! taksi saya kan Ada STNK nya pak , ini kan bukan mobil curian!

P : Kamu itu kalo di bilangin kok ngotot (dengan nada lebih tegas) kamu terima aja surat tilangnya (sambil menyodorkan surat tilang warna MERAH)
Sop : Maaf pak saya gak mau yang warna MERAH suratnya…Saya mau yg warna BIRU aja

P : Hey! (dengan nada tinggi) kamu tahu gak sudah 10 Hari ini form biru itu gak berlaku!
Sop : Sejak kapan pak form BIRU surat tilang gak berlaku?

P : Inikan dalam rangka OPERASI, kamu itu gak boleh minta form BIRU… Dulu kamu bisa minta form BIRU… tapi sekarang ini kamu gak bisa… Kalo kamu gak kamu ngomong sama komandan saya (dengan nada keras dan ngotot)
Sop : Baik pak, kita ke komandan bapak aja sekalian (dengan nada nantangin tuh polisi)

Dalam hati saya …berani betul sopir taksi ini …
P : (Dengan muka bingung) Kamu ini melawan petugas!?
Sop : Siapa yg melawan!? Saya kan cuman minta form BIRU… Bapak kan yang gak mau ngasih

P : Kamu jangan macam-macam yah… saya bisa kenakan pasal melawan petugas!
Sop : Saya gak melawan!? Kenapa bapak bilang form BIRU udah gak berlaku? Gini aja pak saya foto bapak aja deh… kan bapak yg bilang form BIRU gak berlaku (sambil ngambil HP)

Wah … wah hebat betul nih sopir …. berani, cerdas dan trendy … (terbukti dia mengeluarkan hpnya yang ada berkamera.
P : Hey! Kamu bukan wartawankan! ? Kalo kamu foto saya, saya bisa kandangin (sambil berlalu)
Kemudian si sopir taksi itupun mengejar itu polisi dan sudah siap melepaskan “shoot pertama” (tiba-tiba dihalau oleh seorang anggota polisi lagi )

P 2 : Mas, anda gak bisa foto petugas sepeti itu
Sop : Si bapak itu yg bilang form BIRU gak bisa dikasih (sambil tunjuk polisi yg menilangnya)

lalu si polisi ke 2 itu menghampiri polisi yang menilang tadi, ada pembicaraan singkat terjadi antara polisi yang menghalau si sopir dan polisi yang menilang. Akhirnya polisi yg menghalau tadi menghampiri si sopir taksi
P 2 : Mas mana surat tilang yang merah nya? (sambil meminta)
Sop: Gak sama saya pak…. Masih sama temen bapak tuh (polisi ke 2 memanggil polisi yang menilang)

P : Sini tak kasih surat yang biru (dengan nada kesal)
Lalu polisi yang nilang tadi menulis nominal denda sebesar Rp.30.600 sambil berkata “nih kamu bayar sekarang ke BRI … lalu kamu ambil lagi SIM kamu disini, saya tunggu”.
S : (Yes!!) Ok pak …gitu dong kalo gini dari tadi kan enak…

Kemudian si sopir taksi segera menjalnkan kembali taksinya sambil berkata pada saya, “Pak .. maaf kita ke ATM sebentar ya .. mau transfer uang tilang . Saya berkata ya silakan.
Sopir taksipun langsung ke ATM sambil berkata, … “Hatiku senang banget pak, walaupun di tilang, bisa ngasih pelajaran berharga ke polisi itu.” “Untung saya paham macam2 surat tilang.”
Tambahnya, “Pak kalo ditilang kita berhak minta form Biru, gak perlu nunggu 2 minggu untuk sidang Jangan pernah pikir mau ngasih DUIT DAMAI…. Mending bayar mahal ke negara sekalian daripada buat oknum!”
Dari obrolan dengan sopir taksi tersebut dapat saya infokan ke Anda sebagai berikut:
SLIP MERAH, berarti kita menyangkal kalau melanggar aturan Dan mau membela diri secara hukum (ikut sidang) di pengadilan setempat.. Itupun di pengadilan nanti masih banyak calo, antrian panjang, Dan oknum pengadilan yang melakukan pungutan liar berupa pembengkakan nilai tilai tilang.
Kalau kita tidak mengikuti sidang, dokumen tilang dititipkan di kejaksaan setempat, disinipun banyak calo dan oknum kejaksaan yang melakukan pungutan liar berupa pembengkakan nilai tilang.

SLIP BIRU, berarti kita mengakui kesalahan kita dan bersedia membayar denda. Kita tinggal transfer dana via ATM ke nomer rekening tertentu (kalo gak salah norek Bank BUMN). Sesudah itu kita tinggal bawa bukti transfer untuk di tukar dengan SIM/STNK kita di kapolsek terdekat dimana kita ditilang. You know what!? Denda yang tercantum dalam KUHP Pengguna Jalan Raya tidak melebihi 50ribu! dan dananya RESMI MASUK KE KAS NEGARA
SILAHKAN LIKE & DISHARE...


Selasa, 07 Oktober 2014

Tips Mengahadapi Anak " Nakal " atau " Bandel "






Kalau saja guru tahu latar belakang masalah perilaku muridnya, maka ia akan merasa iba dan kasihan
Saya pribadi tidak setjuu dengan judul diatas karena cap atau label nakal mudah sekali diberikan guru jika ia merasa tidak sanggup mengendalikan perilaku siswanya. Siswa yang nakal kebanyakan akan menanggung cap tersebut selama tahun-tahun ia berada di sekolah yang sama. Jika seorang anak mendapat cap nakal di tahun pertama ia bersekolah maka lazimnya cap itu akan melekat terus. Uniknya ukuran nakal tiap guru berbeda-beda.
Bagi seorang guru yang mengajar di sekolah yang berbasiskan agama maka semua anak ‘jalanan’ atau yang hidupnya di jalan akan dikatakan sebagai anak nakal. Tidak heran karena di sekolah tsb segala perkataan anak dijaga dan diperhatikan. Anak tidak boleh berkata kasar dan sebagainya. Sedangkan untuk anak yang hidup di jalan, bahasa sehari-hari mereka memang kata-kata yang menurut kita ‘kasar’ dan tidak pada tempatnya.
Dengan demikian mari sebagai pendidik mulai untuk mengurangi memberi cap negatif. Karena cap negatif sangat relatif dan punya standar dan ukuran berbeda.Hal yang bisa guru lakukan adalah mendekonstruksi kembali cap anak nakal.

Menurut saya tidak ada yang namanya anak nakal, yang ada adalah;
- anak yang kurang kasih sayang orang tua.
Ia berulah negatif di kelas karena ia perlu perhatian. Bagi anak seperti ini, teriakan marah guru seperti ‘belaian’ dikupingnya karena dirumah ia bahkan jarang ada yang memperhatikan.

- anak yang terkena bully dari saudara atau teman sepermainannya.
Tipe anak seperti ini akan melakukan hal yang sama pada anak lainnya karena ia adalah ‘korban’ dan berusaha untuk membalas dendam 

- anak yang kedua orang tuanya mengalami masalah perkawinan. 
Baginya kehidupan sudah tidak nyaman lagi. Kedua orang tua yang seharusnya melindungi sedang berkonflik hal ini yang menjadikannya tidak fokus saat di kelas dan menjadikannya biang onar di kelas.

Daftar diatas bisa bertambah lagi dengan sederet hal lain yang bisa dipandang sebagai penyebab dari ‘kenakalan seorang’ anak.


Jika di kelas anda ada anak yang berkategori nakal ini saran saya;

* stop ucapkan atau hentikan cap nakal pada anak tersebut. 
Katakan “saya pikir yang orang lain katakan tentang kamu itu tidak benar, menurut saya kamu lebih baik dari yang orang bilang” dengan demikian anak tersebut merasa ada orang yang masih percaya padanya.

* cari terus info lengkap mengenai latar belakang keluarga atau info apapun 
demi membuat anda jadi lebih pengertian dan sabar dalam menghadapi perilakunya tetap bersabar dan berdoa untuk anak tersebut. Ucapkan nama anak tersebut dalam doa ketika anda selesai beribadah, maka saat menghadapi ulahnya saya yakin guru akan dikaruniai kesabaran.

* Beri ia kepercayaan.
Mulai dari yang kecil, biarkan ia membawakan barang-barang anda ke ruang guru sampai jadikan ia pemimpin dalam suatu kesempatan di kelas.

* Tangkap basah saat ia berbuat baik, puji ia saat itu juga, atau dengan tulisan dengan secarik kertas.
Saat menegur katakan “minggu ini kamu sudah banyak kemajuan, kenapa sekarang
kok berulah yang negatif lagi?’ Katakan “saya bangga kamu bisa berubah’ bukan “saya senang kamu bisa berubah’. Jika anda katakan senang maka ia akan berubah demi menyenangkan anda sebagai gurunya. Sementara perasaan bangga dari guru murni terjadi karena guru bangga akan sikap yang muridnya perbuat.

* Katakan “saya percaya kamu pasti bisa memilih hal yang paling baik untuk diri mu sendiri dan bisa berubah’.
Menghentikan sikap anak yang negatif hanya bisa dimulai dengan strategi dengan menggunakan pendekatan hati. Jika setahun bersama anda ia belum juga berubah percayalah di tahun berikutnya ia akan berubah, jika belum berubah juga percayalah bahwa ia akan ingat ada satu guru yaitu anda yang selalu percaya padanya.



Yang Copas tolong Lampirkan Sumbernya :
Terimakasih

Minggu, 28 September 2014

9 FAKTOR KESUKSESAN BISNIS


Ada beberapa faktor yang menentukan faktor kesuksesan kita dalam bisnis yang akan atau yang sudah kita jalani, berikut adalah faktor-faktornya :

1.  Kondisi Persaingan
Cek kondisi persaingan apakah masih sedikit pemain atau sudah padat pemain. Jika pemain banyak maka perlu ekstra kerja keras untuk menang. Jika masih sedikit pemain, peluang lebih besar.

2. Kebutuhan Pasar
Apakah pasar memang sudah butuh produk kita?
Apakah konsumen akan membeli produk kita?
Penting untuk lakukan test market dulu, jangan asal action!

3. Fokus Fokus dgn 1 bidang bisnis dulu, atau fokus pada core bisnis (bisnis utama)
karena jika tim masih sedikit dan sudah tdk fokus, maka bisnis sulit berkembang.

4. Strategi Marketing
Persiapkan strategi pemasaran dengan baik, brand, promotion plan, sales promo program adalah faktor penting.

5. Product Quality
Kualitas Produk merupakan Faktor penting dalam bisnis. agar BISNIS kita sukses karena Kualitas produk sangat menentukan kesuksesan BISNIS kita.

6. Kontrol Keuangan Jangan bocor!
Kebocoran keuangan dalam bisnis akan menghancurkan bisnis kita. Catat dan buat laporan keuangan, tunjuk orang yang bisa dipercaya untuk kontrol keuangan.

7. Kekuatan SDM Bisnis
Kekuatan bisnis yang kuat salah satunya ditentukan oleh SDM yang handal, tanpa tim yang berkualitas BISNIS akan sulit berkembang.

8. Inovasi
Inovasi adalah faktor penting, misal inovasi produk, inovasi pemasaran, inovasi ide. Perusahaan-perusahaan besar yang tetap bertahan karena tidak kehabisan inovasi.

9. Kecepatan masuk market,
Ingat kecepatan masuk ke market adalah salah satu faktor penting kesuksesan BISNIS. 



INSPIRASI

Visi Muliamu Akan Mempertemukanmu Dengan Impian Dan Cintamu


“Kalo dari psikologi yang kakak ingat ada namanya teori triangle love nya Sternberg. Love (cinta) itu punya 3 komponen : intimacy, passion dan commitment. Berdasarkan komponen tersebut, banyak jenis love yang terbentuk. Contohnya passionater love terdiri dari passion+intimacy. Dll. Namun cinta yang sempurna itu ketika 3 komponen tersebut berada dalam suatu hubungan percintaan. Katanya juga, cinta itu ya ketika kamu menginvestasikan waktumu, pikiranmu, tenagamu dll untuk seseorang”

“Kalo gitu berarti sampai sekarang saya gak pernah jatuh cinta dong kak? *selain sama ortu”

Entahlah. Saya tiba-tiba menanyakan cinta dengan salah satu senior di psikologi. Dan kesimpulannya saya tidak pernah jatuh cinta. Wew. Ah sudahlah ~

“Kamu masih galau ya ky?”
“Entahlah, bisa jadi iya. Bisa jadi gak”.

Berbicara mengenai galau sebenarnya adalah topik yang menarik. Saya menarik kesimpulan sendiri bahwa galau bukan disebabkan apabila seseorang yang kamu suka tidak membalas sms kamu. Bukan dikarenakan orang yang kamu suka tidak ada kabarnya hingga waktu yang tidak ditentukan. Bukan. Bukan itu sama sekali. Karena that’s too mainstream. Secara pribadi saya menyimpulkan bahwa

Galau terjadi apabila tujuan hidupmu tidak jelas dan spesifik

Yes right. Ya, berbicara mengenai tujuan hidup seringkali kita tidak bisa menjawabnya dengan sebuah jawaban yang meyakinkan. Memang benar, hanya pertanyaan sederhana dan sangat mendasar. Untuk apa kamu hidup? Untuk jadi orang kaya? Jadi artis terkenal? Jadi presiden? Atau jadi apapun yang kita anggap itu keren dan hebat.

Apa sih visi hidupmu?
. . . . . . . . . . . . . . *hening

Oke deh. Jikalau kita berbicara untuk apa manusia diciptakan, maka ada 3 poin utama yang menarik
“sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS At-tiin : 4)


Ini pertama. Pada dasarnya kita adalah ciptaan yang sebaik-baiknya. Bukan ciptaan yang seburuk-buruknya. Maka sudah seharusnya kita memberikan yang sebaik-baiknya juga. Bahkan ketika manusia pertama kali diciptakan saja malaikat sujud kepadanya. Nah lalu mengapa ada orang yang gagal. Mengapa ada penjahat. Mengapa ada anak muda yang lebay, alay, galau dan menyedihkan meratapi masa depan yang seolah-olah dia memutuskan bahwa hidup itu ya sebatas ini aja. Sebatas foya-foya dan menikmati masa depan tanpa tujuan.

Let’s we talk the golden point. Allah sudah memberikan modal utama dan keyakinan bahwa kita adalah ciptaan yang sebaik-baiknya. Beruntunglah kepada yang meyakininya dan sungguh rugi mereka yang meragukannya. Life is choice. Hidup adalah pilihan. Maka pilihan menjadi amazing adalah pilihan yang tepat karena kita meyakini modal utamanya. Terlepas dari siapa kita sekarang, kita tetap sebaik-baik ciptaan. Sudah sepantasnya loh kita memberikan karya-karya terbaik dalam hidup ini. Ya benar, karya karya terbaik sesuai bidang kita masing-masing. Tapi ingat, ada aturan yang seharusnya kita patuhi
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS Adz-dzariyat : 56)

Ini jawaban kedua, untuk apa kita hidup. Apa hubungan antara ibadah dan karya? Oh tentu saja ada. Coba deh lihat gambar ini.

Berkarya dibela-belain sempurna. Sedangkan ibadah seadanya. Sadarkan, inspirasi datangnya dari mana? Ah JLEB banget nih :”
Gimana, masuk akal?

Kita seringkali menjadikan berbagai pembenaran yang membuat bahwa apa yang saya lakukan adalah hal yang benar. Bela-belain demi mencapai impian. Bela-belain demi nama baik keluarga. Bela-belain atas nama membahagiakan orang tua. Memang, orang tua mana coba yang gak mau lihat anaknya sukses. Mungkin banyak orang tua yang menyampaikan pesan seperti ini

“Terserah kamu mau jadi apa nak, yang penting kamu sukses”

Tapi jikalau ditanya di hati yang terdalam, saya yakin ada pesan yang tak tersampaikan

“Ingat Allah ya nak”

Pesan ini sederhana tapi harapannya luar biasa

Kita tidaklah sempurna. Tapi kita mempunyai kesempatan untuk merancang masa depan seperti apa

Seringkali saya melihat modus “membahagiakan orang tua” sehingga kita menghalalkan segala cara. Akhir-akhir ini banyak artis, penyanyi, dancer atau apapun itu yang “terlihat” sukses bermunculan. Tidak jarang orang tuanya dihadirkan di studio beserta anaknya. Dan ada yang kelihatan tidak selaras. Coba tebak, apa yang itu?

Coba deh perhatikan. Seorang ibu yang berkerudung dan seorang anak perempuan yang . . . . . If you know what I meant
“Kamu jangan iri dong. Itu kan pilihan hidupnya”
“Jangan sinis gitu dong. Itu kan demi membahagiakan orang tuanya”
“Dia udah sukses, kalau kamu?”

Nah kan. Modus ini lagi. Gini deh. Sekilas mungkin orang tuanya bahagia. Tapi kita mikir gak dosa yang mengalir ke orang tuanya? Ketika aurat di umbar dengan bangganya. Ketika banyaknya ibadah wajib ditinggalkan. Memang, uang mengalir. Dosa pun mengalir

We don’t talk about success. Karena sukses banyak makna. Entahlah. Saya uninterested  dengan kesuksesan seperti ini. Dan jujur, ketika banyaknya artis muda bermunculan di berbagai sinteron atau sejenisnya yang  dengan bangganya memamerkan sikap hedonismenya. Ketika banyaknya penyanyi dengan suaranya yang indah tapi sayangnya menggadaikan salah satu harta paling berharganya *jawabsendiri*. Ketika banyaknya dancer dengan pakaiannya yang *ahsudahlah. Entahlah, saya risih.

Pernah saya dengan 3 orang teman lainnya Fajri, Hanggief, Adam pergi ke salah satu mal di Jakarta, Sudirman FX. Salah satu outlet yang paling ramai dikunjungi oleh anak muda. Khususnya cowok adal outlet salah satu girl band yang “sekutu” dari Jepang. Entahlah. Entah apa yang mereka lihat. Padahal personil nya juga gak ada. Palingan Cuma foto-foto, baju yang bertuliskan 5 huruf atau pemutaran video dance.

Apa sih yang menarik dari itu?
Kalaupun ada yang sering nonton mereka di konser atau iven apapun gak menjanjikan cowok itu jadian sama personil girl band itu. Kecuali personil girl band itu keluar dari girl band itu. Kenapa? Karena berdasarkan peraturan mereka pacaran akan mengganggu banyak aspek. Lah mereka aja sadar, mengapa kita gak? #udahputusinaja J

“Lah kamu kok tau Ky?”
“saya diberi tahu orang lain, bukan mencari tahu dari orang lain. Beda loh”

Next . . .
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi . . . “ (QS Al-Baqarah : 30)

Khalifah? Apa itu?
Kalau diartikan dari ayat tersebut maka khalifah itu adalah penguasa yang mengatur apa-apa yang ada di bumi. Hmmm, sederhananya gini deh. Siapapun kita adalah pejuang Allah sesuai kapasitas masing-masing.

Ya, ada visi  mulia kita di bumi ini. Bagaimana kita menjadi khalifah di muka bumi ini. Memang butuh perenungan panjang menemukan visi hidup. Saya tidak membatasi diri bahwa visi hidup adalah “sekedar beribadah dan menjauhi segala larangannya”. Ada sebuah visi yang dibentuk yang bisa menguatkan diri dan memotivasi diri ketika kita down

“Menjadi pejuang Allah dengan potensi yang dimiliki”

Memangnya untuk berjuang di jalan Allah harus lulusan pesantren? Memangnya menyebarkan Islam hanya kewajiban seorang ustadz? Memangnya ilmu Allah hanya berlaku di masjid? Hati-hati loh berpikir sekuler atau bahkan liberal.

Ini pemikiran yang sederhana sih sebenarnya. Tapi banyak dari kita yang mengabaikan hal ini. Nah kan ada 3 poin utama. Sebaik-baik ciptaan, ibadah dan khalifah. Lalu apa kaitannya?

Setiap dari kita mempunyai impian masing-masing. Setiap dari kita mempunyai visi hidup yang berbeda-beda. Lalu, bisakah kita “menyelipkan” visi mulia sebagai pejuang Allah yang diciptakan sebaik-baiknya tanpa mengabaikan tugas utama (read : beribadah) dalam hidup kita?
“Ky cari uang itu sulit. Cari yang haram aja sulit apalagi yang halal”

Lah keliru. Saya tidak mengatakan cari uang itu sulit. Itu adalah konsep berpikir. Ketika kita berpikir sulit maka benar-benar akan sulit. Ini adalah konsep dari Law of Attraction. Pernah mendengar sebelumnya? Kamu akan menarik apa yang kamu pikirkan. Konsep sederhana tapi efeknya luar biasa. Gak cukup untuk dijelaskan disini. Bisa baca di referensi lain. Hmmm. Saya rekomendasikan baca buku The Secret. You will understand what I meant. Nah hebatnya, hal ini sudah dijelaskan jauh-jauh hari oleh Allah dalam Hadist Qudsinya

“Aku berdasarkan prasangka hambaku. . .  .”
Kurang apa lagi coba?

Tetapkan impianmu yang mulia sekarang. Berkomitmenlah untuk itu dengan konsep ini. Karena jika tidak, lingkungan yang akan memaksamu keluar dari jalan yang lurus. Misalkan bekerja di bar-bar padahal jelas alkohol haram. Bekerja tapi pake rok mini padahal jelas-jelas Islam melarang. Bekerja tapi waktu sholat diabaikan padahal jelas-jelas sholat jauh lebih penting. Ya tetapkanlah impianmu dan “selipkan” visi mulia. Karena entah bagaimana caranya, ketika kita mempunyai visi yang mulia, Allah akan membantu kita. Just believe it!

“Aku mau jadi perawat rumah sakit dan tetap menjaga auratku”
“Aku ingin jadi pengusaha dan ketika waktu sholat seluruh karyawanku sholat jamaah”
“Aku mau jadi pemimin pejabat tapi rapat tidak mengganggu waktu shalat”

Apakah itu mustahil? Jelas tidak. Kun Fayakun. Semuanya gampang bagi Allah. There is no impossible. Everything is I’m Possible because we have Allah
Nah lalu, apa kaitannya dengan Love? Yang saya percayai, orang-orang yang sevisi akan dipertemukan entah bagaimana caranya. Entah jodoh, sahabat, kelompok atau apapun itu. Tugas kita adalah memantaskan diri. Memantaskan diri dengan usaha, doa dan berbagai hal lainnya. Bisa jadi ketika selama ini kita udah mengincar gebetan atau bahkan udah pacaran sekian lama (I don’t recommended it) tapi akhir-akhirnya gak nikah, yaudah refleksi lagi visi mulia kita. Bisa jadi bukan dia yang akan menjadi partner hidup kita dalam membangun anak-anak generasi bangsa dan agama.
2 September 2014 saya di tag oleh Kak Kusnan, Presiden Youthcare sebuah status yang hmmmm, ah sudahlah. Baca sendiri. Sungguh saya belajar banyak dari beliau dari mulai berjumpa hingga kini Dan kini saya terikat sebagai Ranger di Youthcare. Thanks kak :)

2008,
pertama kali aku mengenalmu,
saat itu kau masih berbaju putih abu-abu,
sedang aku, alumni sekolahmu yang sedang menggebu

2008,
kuajak kau ikut serta,
dalam pekerjaan yang mengita semua,
entah kau mengerti apa maksudnya,
yang jelas kulihat kau hanya ikut kerja,

2009 -2011,
aku berkelana dengan visiku,
sementara kau mengejar mimpimu,
sementara itu aku tak tau keberadaanmu,

2011,
kau hadir lagi dalam visiku,
bersama berjuang dengan menggebu,
dengan visi yang lebih besar dan wajah baru

2012,
perlahan kita perjuangkan visi,
mulai menggores aksi dan hadirkan prestasi
terus melaju berbagi inspirasi dan kontribusi

2013,
kita bersinergi,
menjalin ikatan paling suci,
berjuang bersama sepenuh hati,
hingga Allah karuniakan buah hati.

2014,
langkah kita makin pasti,
meski kesibukan kita makin berarti,
pun dengan terus bertumbuhnya sang buah hati,
tapi tekad dan visi makin mengakar pasti.

dan kini,
kau baru usai Graduasi,
menyelesaikan studimu yang terus kau perjuangkan,
dalam sulit dan penuh perjuangan,
dan Alhamdulillah…. akhirnya kau dapat juga gelas S.Si

Milad Mubarok belahan hati,
hadirmu menguatkan visi,
bersamamu kita menikmati perjuangan sejati,
saat yang lain menua bersama, kita perjuangkan agar selalu muda,
selalu muda dalam tekad dan semangat.

semoga sisa usia kita penuh berkah berlimpah.
untukmu,
tulang rusukku,
my beloved Khairunnisah Al-Fatih

By : Mokhamad Kusnan Kedua
Nah, you know what i meant?
Walaupun sulit mempercayai tapi itu nyata. Anda akan dipertemukan dengan orang sevisi. Gak usah sibuk dalam cinta dalam konteks “aku sayang kamu, aku cinta kamu” sedangkan kita sendiri gak tau makna cinta.
Mari teman-teman,
Pantaskan diri untuk visi mulia
Atau kamu akan terlempar ke hal yang tidak kamu harapkan
#keep spirit and inspiring!

Mau tahu lebih banyak tentang youthcare? Klik www.youthcareinternational.com  Let’s join with us!
Karena pemuda adalah pemegang janji-janji kebangkitan, untuk itulah kamu ada

*Rezky_Firmansyah_Adm

Jumat, 12 September 2014

ASAL NAMA " INDONESIA "

I N D O N E S I A


Kata orang apalah arti nama. Ya, apa artinya nama? Apakh pada akhirnya nama memang sesuatu yang benar-benar ‘unik’, yang dapat membedakan ‘kita’ dengan ‘yang lain’? Nah, kalau sama terus kenapa? Dan kalau beda, memang mau apa?
Pertanyaan itu mungkin bisa kita renungkan bersama. Walaupun perkara ‘nama’ ini kelihatannya sederhana tetapi sebenarnya ada “politik identitas” yang termuat di dalamnnya loh… Aduh, hari gini masih ngomong politik? Enggak banget ya?! Eits, tenang… Politik identitas ini punya definisi yang beda dari politik kekuasan. Nah, sebelum kita masuk ke “politik identitas” itu kita pelajari dulu yuk asal-usul nama Indonesia…

Sebelum kedatangan bangsa Eropa
PADA zaman purba kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai Nan-hai atau Kepulauan Laut Selatan. Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini DwipantaraKepulauan Tanah Seberang, nama yang diturunkan dari kata Sansekerta,dwipa, yang berarti pulau dan antara yang berarti luar atau seberang.
Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Ramayang diculik Ravana, sampai ke SuwarnadwipaPulau Emas, yaitu Sumatra (sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.
Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza’ir al-JawiKepulauan Jawa. Nama Latin untuk kemenyan adalah benzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra.
Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab, bahkan bagi orang Indonesia luar Jawa sekalipun. Para pedagang di Pasar Seng, Mekkah menyebut, “Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi” atau “Sumatra, Sulawesi , Sunda, semuanya Jawa”.

Masa kedatangan Bangsa Eropa
Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia . Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan jika Asia hanya terdiri dari Arab, Persia , India , dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah Hindia. Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”, sedangkan tanah air kita memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau “Hindia Timur” (Oost Indie, East Indies , Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (*Maleische Archipel, Malay Archipelago , l’Archipel Malais).
Ketika tanah ini dijajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch- Indie atau Hindia Belanda, sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah Hindia Timur atau To-Indo.

Berbagai Usulan Nama
Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan namayang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” (bahasa Latin insula berarti pulau). Tetapi rupanya nama Insulinde ini kurang populer. Bagi orang Bandung , Insulinde mungkin hanya dikenal sebagai nama toko buku yang pernah ada di Jalan Otista.
Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang dikenal sebagai Dr. Setiabudi (cucu dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata “ India ”. Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 Lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.
Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Kata-kata ini sendiri termuat dalam Sumpah Palapa yang dikumandangkan Gajah Mada, ”Lamun huwus kalah Nuswantara, isun amukti palapa”“jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat”. Oleh Dr. Setiabudi katanusantara zaman Majapahit tersebut diberi pengertian yang nasionalistis.
Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudra”, sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi Nusantara yang modern. Istilah Nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda. Sampai hari ini istilah Nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan wilayah tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Tetapi nama resmi bangsa dan negara kita adalah Indonesia. Lalu dari mana gerangan nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul?

Nama Indonesia
Tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.
Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel “On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations.” Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas, a distinctive name, sebab nama Hindia Tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama, Indunesia atau Malayunesia, nesos, dalam bahasa Yunani berarti Pulau. Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis, “… the inhabitants of the Indian Archipelago or malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.”

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia, Kepulauan Melayu, daripada Indunesia atau Kepulauan Hindia, sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia. Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago, Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan ini, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.
Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan, “Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia , which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago.”Ketika mengusulkan nama Indonesia agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!
Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama “Indonesia” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indie tahun 1918.
Putra pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara. Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan namaIndonesische Pers-bureau.

Masa Kebangkitan Nasional: Makna politis
Pada dasawarsa 1920-an, nama Indonesia yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama Indonesia akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu. Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda, yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging, berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.
Dalam satu tulisannya Bung Hatta menegaskan, “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut Hindia Belanda. Juga tidak Hindia saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.“
Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij).
Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama Indonesia. Akhirnya nama Indonesia dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda. Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad, Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardji Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama “Nederlandsch- Indie”. Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah namun masukkanya Jepang pada tanggal 8 Maret 1942 membuat Hindia Belanda ‘lenyap’ dan pada akhirnya tergantikan dengan Republik Indonesia.





SEJARAH LAMBANG NEGARA REPUBLIK INDONESIA BURUNG GARUDA


Pembuat Lambang Garuda Pancasila

Sepanjang orang Indonesia, siapa tak kenal burung garuda berkalung perisai yang merangkum lima sila (Pancasila)? Tapi orang Indonesia mana sajakah yang tahu, siapa pembuat lambang negara itu dulu?
Beliau adalah Sultan Hamid II, yang terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung sultan Pontianak. Sultan Syarif Muhammad Alkadrie. Lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913.
Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang.
Dalam tubuhnya mengalir darah Indonesia - Arab dan pernah diurus ibu asuh berkebangsaan Inggris. Istri beliau seorang perempuan Belanda yang kemudian melahirkan dua anak –keduanya sekarang di Negeri Belanda. Selain pencipta lambang negara, Syarif yang bergelar Sultan Hamid Alkadrie II dan Sultan ke 8 Pontianak ini juga adalah orang Indonesia pertama yang berpangkat tertinggi di dunia militer, yaitu Mayor Jendral.

Sejarah Kelahiran Lambang Garuda Pancasila sebagai Lambang Negara Indonesia

Setelah Perang Kemerdekaan Indonesia (1945-1949), disusul pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda melalui Konfrensi Meja Bundar pada tahun 1949, dirasakan perlunya Indonesia (pada saat itu masih bernama Republik Indonesia Serikat) untuk memiliki lambang negara. Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II yang ditugaskan Presiden Soekarno untuk merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara; dengan susunan panitia teknis : Muhammad Yamin sebagai ketua, dan beranggotakan Ki Hajar Dewantara, M A Pellaupessy, Moh Natsir dan RM Ng Poerbatjaraka; sebagai panitia yang bertugas menyeleksi usulan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah.

Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M. Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari yang menampakkan pengaruh Jepang.  Rancangan Lambang Negara berupa Garuda Pancasila milik Sultan Hamid II dipilih karena mengacu kepada ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara.

Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS (Republik Indonesia Serikat) Ir. Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Mereka bertiga sepakat mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan "Bhineka Tunggal Ika".Tanggal 8 Februari 1950, rancangan lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan kembali, karena adanya keberatan terhadap gambar burung Garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap terlalu bersifat mitologis.

Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali-Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri. AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya disetujui oleh Presiden Soekano pada tanggal 10 Februari 1950 dan diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS pada tanggal 11 Februari 1950. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih "gundul" dan tidak berjambul seperti bentuk sekarang ini. Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950.

Soekarno terus memperbaiki bentuk Garuda Pancasila. Pada tanggal 20 Maret 1950 Soekarno memerintahkan pelukis istana, Dullah, melukis kembali rancangan tersebut; setelah sebelumnya diperbaiki antara lain penambahan "jambul" pada kepala Garuda Pancasila, serta mengubah posisi cakar kaki yang mencengkram pita dari semula di belakang pita menjadi di depan pita, atas masukan Presiden Soekarno. Dipercaya bahwa alasan Soekarno menambahkan jambul karena kepala Garuda gundul dianggap terlalu mirip dengan Bald Eagle (Lambang Negara Amerika Serikat). Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara yang mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974. Rancangan Garuda Pancasila terakhir ini dibuatkan patung besar dari bahan perunggu berlapis emas yang disimpan dalam Ruang Kemerdekaan Monumen Nasional sebagai acuan, ditetapkan sebagai lambang negara Republik Indonesia, dan desainnya tidak berubah hingga kini.

Sampai sekarang, Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah Pontianak, tanah kelahiran Sultan Hamid II, sang Pencipta Lambang Negara Indonesia.

Rancangan Lambang Negara oleh M Yamin :


Karya M. Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari yang menampakkan pengaruh Jepang


Rancangan Lambang Negara oleh Sultan Hamid II :





Rancangan-rancangan awal Garuda Pancasila oleh Sultan Hamid II masih menampilkan bentuk tradisional Garuda yang bertubuh manusia dan belum disempurnakan.



Garuda Pancasila yang diresmikan penggunaannya pada 11 Februari 1950, masih tanpa jambul dan posisi cakar di belakang pita.



Penyelesaian penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara oleh Sultan Hamid II, dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara.


Deskripsi dan Filosofi Garuda Pancasila

GARUDA
Garuda Pancasila sendiri adalah burung Garuda yang sudah dikenal melalui mitologi kuna dalam sejarah bangsa Indonesia (Nusantara), yaitu kendaraan Wishnu yang menyerupai burung elang rajawali. Garuda digunakan sebagai Lambang Negara untuk menggambarkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan negara yang kuat.
Mitologi garuda berasal dari kebudayaan Hindu. Garuda digambarkan sebagai manusia burung dengan bulu keemasan, dan memiliki mahkota di kepalanya. Konon ukuran tubuh garuda sangatlah besar sehingga mampu menutupi matahari. Garuda juga sering digambarkan sebagai kendaraan Vishnu. Menurut Mahabarata, konon saat Garuda lahir dari telurnya, bumi gonjang ganjing (seperti waktu sun go kong lahir di film >.<) sehingga para dewa memohon padanya untuk tenang. Garuda adalah anak Kasyapa dan Vinata. Vinata memiliki hutang terhadap Kadru, ibu para ular karena suatu pertaruhan. Untuk menghapus hutang tersebut, Garuda diminta Kadru untuk memberikan obat keabadian yg disebut Amrita padanya.
Garuda kemudian mencuri Amrita dari tempat para dewa. Meskipun para dewa bersatu menghadang Garuda, mereka bukanlah tandinganya. Dalam perjalanan pulang, Garuda bertemu dengan Vishnu, Vishnu berjanji akan memberikan keabadian pada Garuda biarpun tanpa meminum Amrita, sebagai gantinya Garuda menjadi kendaraan Vishnu.
Kemudian Garuda bertemu dengan Indra dan sekali lagi dia mendapat penawaran. Garuda berjanji akan memberikan Amrita pada Indra dan Indra akan memberikan para ular sebagai makanan Garuda. Akhirnya Garuda memberikan Amrita pada para ular untuk menghapus hutang ibunya, setelah Amrita diberikan, Indra turun dari langit, merebut Amrita, dan menghabisi para ular. Sejak saat itu Garuda menjadi rekan para dewa, tunggangan kebanggan Vishnu, sekaligus menjadi musuh utama para ular.

Warna keemasan pada burung Garuda melambangkan keagungan dan kejayaan.
Garuda memiliki paruh, sayap, ekor, dan cakar yang melambangkan kekuatan dan tenaga pembangunan.
Jumlah bulu Garuda Pancasila melambangkan hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 :
17 helai bulu pada masing-masing sayap
8 helai bulu pada ekor
19 helai bulu di bawah perisai atau pada pangkal ekor
45 helai bulu di leher
Perisai
Perisai adalah tameng yang telah lama dikenal dalam kebudayaan dan peradaban Indonesia sebagai bagian senjata yang melambangkan perjuangan, pertahanan, dan perlindungan diri untuk mencapai tujuan.
Di tengah-tengah perisai terdapat sebuah garis hitam tebal yang melukiskan garis khatulistiwa yang menggambarkan lokasi Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu negara tropis yang dilintasi garis khatulistiwa membentang dari timur ke barat.
Warna dasar pada ruang perisai adalah warna bendera kebangsaan Indonesia "merah-putih". Sedangkan pada bagian tengahnya berwarna dasar hitam.
Pada perisai terdapat lima buah ruang yang mewujudkan dasar negara pancasila. 

Pengaturan lambang pada ruang perisai adalah sebagai berikut :
Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa dilambangkan dengan cahaya di bagian tengah perisai berbentuk bintang yang bersudut lima berlatar hitam
Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dilambangkan dengan tali rantai bermata bulatan dan persegi di bagian kiri bawah perisai berlatar merah
Sila Ketiga: Persatuan Indonesia dilambangkan dengan pohon beringin di bagian kiri atas perisai berlatar putih
Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan dilambangkan dengan kepala banteng di bagian kanan atas perisai berlatar merah
Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia dilambangkan dengan kapas dan padi di bagian kanan bawah perisai berlatar putih.
Pita Bertuliskan Semboyan Bhinneka Tunggal Ika
Kedua cakar Garuda Pancasila mencengkeram sehelai pita putih bertuliskan "Bhinneka Tunggal Ika" berwarna hitam.
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah kutipan dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular. Kata "bhinneka" berarti beraneka ragam atau berbeda-beda, kata "tunggal" berarti satu, kata "ika" berarti itu. Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan "Beraneka Satu Itu", yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya tetap adalah satu kesatuan, bahwa di antara pusparagam bangsa Indonesia adalah satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.



=-_Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) / Garuda Eagle_-=



=-_Ilustrasi kuno Garuda, Dewa mitologi umat Hindu sebagai Tunggangan Dewa Wisnu_-=



=-_Ilustrasi modern Garuda, Dewa mitologi umat Hindu_-=


=-_Patung sang Garuda_-=



Demikian Sejarah tentang sejarah lahirnya Lambang NKRI yaitu Lambang Garuda